Kisah Teladan SufiSunan Kudus - Kisah Teladan Sufi| Sunan kalijaga | sunan muria | sunan kudus | sunan drajat | Sunan ampel | Imam Hambali | Imam Syafi'i | Imam Hanafi | Syaikh Abdul Qadir Al-jaelani | Imam Al-Ghazali | Rabi'ah Al-adawiyah | Ibnu Sina | Jalaludin Rumi | Al-Hallaj | Ibnu Sina | <data:blog.pagename/> | <data:blog.title/> kisah teladan sufi

Sunan Kudus

Posted under kisah WaliSongo by wahyudi on Thursday 16 June 2011 at 8:44 pm

Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro dan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.

Kisah Dakwah Sunan Kudus

Sampai sekarang masjid Kudus peninggalan JA’FAR SHODIQ itu terkenal dengan bentuk menaranya yang khas. Bentuk menara masjid Kudus tidak serupa dengan menara masjid yang terdapat di manapun, baik di Indonesia maupun Timur Tengah.

Oleh karena itu lalu berkembang lnterpretasi, dan interpretasi orang Jawa selalu mengarah ke mistik. Ada yang mengatakan bahwa bentuk itu dibuat untuk menank simpati orang Jawa yang beragama Hindu, sehmgga mereka tidak merasa canggung masuk masjidnya JA’FAR SHODIQ.

Setelah mereka masuk ke dalam masjid barulah JA’FAR SHODIQ memberi ceramah ten tang ajaran Islam. Tetapi ada pula kisah yang warna mistiknya keterlaluan. Pada waktu Raden FATTAH menunjuk JA’FAR SHODIQ sebagai panglima pe- rang untuk menyerbu Majapahit, tugas tersebut dapat diselesaLkan dengan sukses. Setelah perang selesai, JA’FAR SHODIQ terkesan dengan menara yang ada di depan kraton Majapahit. Oleh karena itu JA’FAR SHODIQ ingin membawa menara tersebut ke Kudus, akan ditempatkan di dekat rumah tinggalnya. Untuk itu JA’FAR SHODIQ berdo’a kepada Allah Swt, dan tidak lama kemudian menara tersebut menjadi kecil. Saking kecilnya menara kraton Majapahit itu dapat disimpan di dalam lipatan sorbannya. Setelah tiba di Kudus, menara itu diambil lalu diletakkan di depan masjid serta kembali menjadi besar seperti bentuk dan ukuran semula.

Pembuat kisah mistik ini tidak cermat, karena pada waktu JA’FAR SHODIQ menjadi panglima pasukan Dernai menyerang Majapahit, dia masih tinggal di Demak, belum pindah ke Kudus. Di atas menara masjld Kudus terdapat tulisan yang berbunyi gapuro rusak ewahing jagad, yang merupakan condrosangkolo untuk tahun 1609 S atau 1685 M. Menurut SOLICHIN SALAM (1960), masJid Kudus dibangun pada tahun 1549 M. Jadi a da kernungkinan bahwa masjid Kudus pertama kalj dibangun pada tahun 1549 M, sedang menaranya baru selesai 134 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1685M (Anonim 2001).

Akan tetapi logika ini tidak sesuai dengan keterangan-keterangan tentang masa hidup Sunan KUDUS, yang men jadi panglima perang pada masa pemerintahan Raden FATTAH. Padahal masa pemerintahan Raden FATTAH  berlangsung dan tahun 1462-1518, dan mungkin Sunan KUDUS meninggal tidak jauh dari tahun 1518, atau katakanlah tahun 1550 M. Ini berarti pembangunan menara masjid Kudus selisih lebih dari satu abad dari kematian Sunan KUDUS sendiri.

Ki Ageng Kedu

Pada waktu nama Sunan KUDUS mulai terkenal, ada seorang sakti bemama Ki Ageng KEDU. Menilik namanya, mungkin orang itu bertempat-tinggal atau berasal dari daerah Kedu, atau hanya di sekitar kota Kudus saja. Tetapi tidak ada publikasi yang menyebutkan agama apa yang dipeluk oleh orang sakti itu, Hindu, Buddha atau Animisme. Kebanyakan para penulis muslim menganggap agama Hindu, Buddha dan Animisme itu sama, padahal berbeda sekali. Kisah Ki Ageng KEDU ini mirip dengan kisah brahmana dari India yang menantang Sunan MBONANG, dan hampir persis dengan kisah Begawan MINTOSEMERU menantang Sunan GIRJ. Mendengar ketenaran Sunan KUDUS, Ki Ageng KEDU merasa tersaingi. Ki Ageng KEDU tidak senang dengan ketenaran Sunan KUDUS karena agama yang dipeluknya berbeda. Perasaan seperti itu sebenarnya biasa, yang juga dapat terjadi pada siapa pun. Oleh karena itu Ki Ageng KEDU berniat untuk mengadu kesaktian dengan Sunan nKUDUS, untuk membuktikan siapa sebenarnya yang lebih pantas menjadi orang nomer satu di daerah itu. Sebagai wali yang menjadi pemuka agama baru, Sunan KUDUS lebih dipuja oleh masyarakat luas dibanding Ki Ageng KEDU.

Untuk melaksanakan niatnya itu, Ki Ageng KEDU berangkat ke Kudus dengan mengendarai tampah, yaitu nampan yang dibuat dari anyaman bambu yang diberi bingkai dengan bambu pula. Dengan tampah itu Ki Ageng KEDU dapat terbang sehingga perjalanan menuju Kudus dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Setibanya di kota Kudus, dengan tampah itu Ki Ageng KEDU terbang melayang-layang di atas tempat tinggal Sunan KUDUS. Karena itu maka banyak masyarakat Kudus yang menyaksikan peristiwa itu, karena tersinggung Sunan Kudus  memerintah kan Ki Ageng Kedu untuk turun sampai beberapa kali, akan tetapi  Ki Ageng Kedu tidak peduli terhadap Sunan Kudus, sehinga Sunan Kudus marah dan menuding kea rah Ki Ageng Kedu, seketika itu juga Ki ageng kedu tiba – tiba seperti kehilangan daya dan terjatuh di comberan, dan akhirnya mengaku kalah.

Keturunan Sunan Kudus

Di antara keturunan Sunan Kudus yang menjadi Ulama’ dan Tokoh di Indonesia adalah: Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, dan Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini.

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

rabiah al adawiyah | al ghazali | abdul qadir al jaelani | jalaludin rumi | Habib Al-ajami | Imam Al-Ghazali | ibnu Sina | Hikmah tahajud | cerita teladan islami | tasawuf islam | kisah para sufi | Maulana malik ibrahim | Maulana ishaq | sunan ampel | sunan giri | sunan mbonang | sunan kudus | sunan muria | sunan kalijaga |