Kisah Teladan SufiSunan Ampel - Kisah Teladan Sufi| Sunan kalijaga | sunan muria | sunan kudus | sunan drajat | Sunan ampel | Imam Hambali | Imam Syafi'i | Imam Hanafi | Syaikh Abdul Qadir Al-jaelani | Imam Al-Ghazali | Rabi'ah Al-adawiyah | Ibnu Sina | Jalaludin Rumi | Al-Hallaj | Ibnu Sina | <data:blog.pagename/> | <data:blog.title/> kisah teladan sufi

Sunan Ampel

Posted under kisah WaliSongo by wahyudi on Tuesday 14 June 2011 at 7:13 pm

Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Dalam catatan Kronik Cina, ia dikenal sebagai Bong Swi Hoo.

Ibrahim Asmarakandi disebut juga sebagai Maulana Malik Ibrahim. Ia dan adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro. Ketiganya berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara. Dipati Hangrok telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki [yang diduga adalah Raden Patah]. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Putri Pasai kemudian diserahkan sebagai isteri bagi putera raja Bali, yang wafat ketika Putri Pasai mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Putri Pasai kembali ke Majapahit, kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus, sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa (Jeumpa) permaisuri Prabu Brawijaya.

Silsilah Sunan Ampel

•              Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin

•              Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin

•              Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin

•              Ahmad Jalaludin Khan bin

•              Abdullah Khan bin

•              Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin

•              Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin

•              Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)

•              Ali Kholi’ Qosam bin

•              Alawi Ats-Tsani bin

•              Muhammad Sohibus Saumi’ah bin

•              Alawi Awwal bin

•              Ubaidullah bin

•              Ahmad al-Muhajir bin

•              Isa Ar-Rumi bin

•              Muhammad An-Naqib bin

•              Ali Uraidhi bin

•              Ja’far ash-Shadiq bin

•              Muhammad al-Baqir bin

•              Ali Zainal Abidin bin

•              Imam Husain bin

•              Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad

Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

Sejarah dakwah Sunan Ampel

Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.

Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri Champa, dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.

Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Syarifah, yang merupakan isteri dari Sunan Kudus.

Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak.  Mengikuri cara dakwah Maulana MAUK IBRAHIM, begitu tiba di Ampel Raden RAHMAT lalu membangun majiid dan pesantren. Dan sini belakangan Raden RAHMAT lebih dikenal dengan sebutan Sunan AMPEL. Raden RAHMAT terbukti mempunyai kepekaan sosial yang tmggi. lJntuk mempercepat pemahaman masyarakat terhadap Islam, istilah sholat diganti densan sembahyang, istilah yang akrab pada umat hindu, Istilah mushola diganti dengan ianggar, yang dekat dengan J<ata sanggar, tempat orang Hindu bersemedi kepada para Dewa. Anak atau orang yang mengikuti pendidikan dipesantren disebut santri, berasal dari kata shastri, yaitu orang yang tahu buku suci agama Hindu. Untuk memperbaiki moral masyarakat, sunan Ampel membuat rumus larangan mo-limo yang masih terkenal

sampai seka rang, yaitu larangan melakukan main, (berjudi), minum (minuman keras), maling (mencuri), madat (mengisap candu), dan madon (berzinah). Sebetulnya rumus yang disampaikan oleh Raden RAHMAT bukan mo-limo, melainkan emoh-Iimo, yang artinya memantang untuk melakukan lima hal yang di larang agama.

Kisah dua Murid Sunan Ampel

Tidak seperti beberapa wali yang lain. Sunan Ampel tidak banyak memiliki kisah mistis, (mirip kisah Maulana malik Ibrahim) Tidak seperti beberapa wall  yang lain. Barangkali karena orang Jawa tidak puas dengan itu, maka pengikut Sunan Ampel-lah yang sering ditonjolkan  memiliki kekuatan gaib. Kalau pembantunya saja sudah hebat,apalagi Sunan AMPEI. sendiri. Kedua pembantu Sunan Ampel yang sering di ceriterakan mempunyai kekuatan gaib adalah mbah Sholeh dan mbah Sonhaji.

Mbah Sholeh

Mbah Sholeh adalah salah satu murid Sunan Ampel yang mempunyai  tugas sebagai tukang sapu masjid. Mbah SHOLEH melaksanakan tugas setelah selesai disapu lantai masjid  AMPEL sangat bersih. Semua orang yang sholat di situ sangat  senang karena tidak ada debu setitikpun. Semua orang rnmuji kehebatan mbah Sholeh menyapu masjid Suatu ketika mbah SHOLEH meninggal dunia, lalu dimakaman di depan masjid Ampel itu. SepeninggaI mbah Sholeh tidak ada seorang santri pun vang mampu membersihkan lantai masjid seperti  mbah Sholeh SHOLEH. Maka dengan meniriggalnya mbah SHOLEH, lantai masjid lalu nampak kotor. Menghadapi kenyataan itu, suatu ketika tenicap kata-kata dari Sunan AMPEL: “Kalau saja mbah SHOLEH masih hidup, tentu masjid  tidak kotor begini”. Rpeitu Sunan AMPEL selesai berbicara, mendadak mbah SHOLEH kemudian hidup kembali masjid dan melakukan tugasnya seperti dulu menyapu lantai masjid, sehingga masjid kelihatan bersih kemball seperti dulu ketika mbah SHOLEH masih hidup. Tentu saja para santri merasa heran. Beberapa bulan kemudian mbah SHOLEH rneniriggal lagi, dan dimakamkan di depan masjid, berdekatan dengan makarn mbah Sholeh yang dulu. Sejak itu kembali lantai masjid menjadi kotor, dan terucaplah kata-kata Sunan AMPEL seperri  dulu. Kali iniipun mbah SHOLEH hidup lagi, dan lantai masjid menjadi bersih lagi. Tetapi beberapa bulan kemudian mbah SHOLEH meninggal lagi dan dimakarnkan di dekat makarn mbah SHOLEH yang kedua. Jadi sekarang di depan masjid Ampel sudah ada tiga makarn mbah SHOLEH. Begitulah, kejadian itu terulang sampai Sembilan kali. Ada pemulis yang dengan yakin mengatakan bahwa ini bukan csritera kosong karena sampai sekarang dapat dilihat, di makarn sebelah timur masjid Ampel ada sembilan makarn mbah SHOLEH. Tetapi sembilan makam tersebut tidak berisi sembilan orang, malainkan berisi mayat satu orang saja, yaitu mbah SHOLEH.

Mbah Sonhaji

Murid Sunan AMPEL  lain yang juga memiliki kharomah luar biasa adalah mbah SONHAJI. Pada waktu dilakukan pembangunan mas]id Ampel, SONHAJI diserahi tugas untuk menentukan  arah kiblat. Mendapat tugas itu, SONHAJI bekerja dengan tekun, jangan sampai orang yang melakukan sholat di masjid itu tidak persis menghadap kiblat di Makkah. Akan tetapi setelah masjid itu jadi, banyak orang meragukan hasil kerja Sonhaji. Orang masih sangsi apakah arah kiblat sudah benar, Menghadapi keraguan banyak orang itu, SONHAJI membuat lubang di tembok pengimaman sebelah barat. Kemudian SONHAJI mempersilahkan orang-orang yang masih ragu dengan arah kiblat masjid Ampel itu dengan melihat lubang yang baru saja selesai dibuat. Betapa heran dan kagumnya orang-orang tersebut. Di dalam lubang yang dilihat oleh Sonhaji  itu semua orang dapat melihat ka’bah di Masjidil Haram, sehinga tidak ada lagi yang meragukan hasil kerjanya.

Wafat sunan Ampel

Sunan Ampel

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. Namun ada beberap sumber lain yang berbeda terhadap hal ini,

Babad Gresik menyebut Sunan Ampel  wafat tahun 1481, dengan sengkaia Ngulana Ngampel Seda Masjid Serat Kandha edisi BRANDES menyebut angka 1486, sementara MAFTUH  AHNAN (1414 H) menyebut tahun 1478, sementara WIDJI SAKSONO (1991 dan IAN MUSTAFA (1984) menyebut tahun 1467. Sanipai sekarang setiap hari makam  Sunan Ampel rarnai dikunjungi sekitar 1.000 peziarah dengan puncak ketika diselenggarakan Haul Agung Sunan Ampel bu lan November 2001 dendan iumlah pengunjung 10.000 orang.

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

rabiah al adawiyah | al ghazali | abdul qadir al jaelani | jalaludin rumi | Habib Al-ajami | Imam Al-Ghazali | ibnu Sina | Hikmah tahajud | cerita teladan islami | tasawuf islam | kisah para sufi | Maulana malik ibrahim | Maulana ishaq | sunan ampel | sunan giri | sunan mbonang | sunan kudus | sunan muria | sunan kalijaga |